Showing posts with label Allah_SWT. Show all posts
Showing posts with label Allah_SWT. Show all posts

Thursday, 27 October 2016

No Pray - No Handsome

Shalat Jumat hukumnya fardu ‘ain bagi setiap orang islam laki-laki, hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan) tanpa ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Dan dalil pensyariatannya termaktub di dalam Al-Quran dan As-sunnah an-Nabawiyah, sehingga pengingkaran atas syariat wajib jum’at adalah kekafiran.[1]Hanya Ibnu Rusyd menyebutkan adanya beberapa pendapat yang berlainan dalam kitabnya,[2] tetapi hal ini telah dibantah oleh para ulama, dan ulama telah menetapkan tidaklah mengingkari wajibnya jum’at kecuali ahlu bid’ah dan pengikut hawa nafsu.[3]Berikut ini dalil-dalil hukum fardhu ‘ain shalat jum’at bagi laki-laki :
A. Al-Quran



Perintah wajibnya shalat jum’at termaktub dalam ayat :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( Al-Jumu`ah : 9)
B. Sunnah
Diantara hadits-hadits yang menerangkan pensyariatan shalat jum’at adalah :
1. Dari Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri ra. berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda,


مَنْ تَرَكَ َثلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طبَعَ الله عَلىَ قَلْبِهِ
"Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya." (HR. Abu Daud)
2. Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu `anhu bahwa Rasulullah Saw bersabda :
"Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali atas 4 orang, (yaitu) Budak, Wanita, Anak kecil dan Orang sakit." (HR. Abu Daud)
3. Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu `anhuma,bahwa mereka mendengar Rasulullah Saw bersabda di atas mimbar :


لَيَنتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الجُمُعَةَ أَوْ لَيَخْتَمَنَّ الله عَلَى قُلُوْبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الغَافِلِيْنَ

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lalai." (HR. Muslim)
Berdasarkan hadits-hadits diatas, para ulama menghukumi orang-orang yang meninggalkan kewajiban shalat jum’at sebagai pelaku dosa besar dan termasuk kekufuran

Sunday, 23 October 2016

Wanita Adalah Mutiara

Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.

Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ‘kebetulan’ wanita. Insya Allah.

Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.

Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.

Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.

Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.

Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.

Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadi seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.

Ketahuilah, bukan banyaknya jumlah infaq yang penting melainkan kontinuitas-nya. Lebih baik berinfaq sedikit namun konstan terus-menerus daripada berinfaq dalam jumlah besar namun hanya sekali setahun atau seumur hidup. Orang yang konstan berinfaq tidak bakal dipengaruhi oleh musim. Dalam masa paceklik tetap berinfaq, dalam masa panen tentu lebih pasti.


وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ


أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”

#EraMuslim

Hi Musim & Muslimah Shubuh Itu Indah



meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’aala maka di antara fadhilah yang akan ia peroleh adalah penambahan ilmu dari Allah ta’aala, jalan keluar kesulitan hidupnya serta rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

”Dan bertakwalah kepada Allah; Allah (akan) mengajarmu.” (QS AlBaqarah ayat 282)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq ayat 2-3)



Demikian pula dengan berinfaq. Allah ta’aala menjanjikan fadhilah di balik kedermawanan seseorang yang rajin berinfaq.

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ ayat 39)

Bahkan dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan keuntungan yang bakal diraih seseorang yang rajin berinfaq di pagi hari sekaligus kerugian yang bakal dideritanya bilamana ia tidak peduli berinfaq di pagi hari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)
Ketahuilah, bukan banyaknya jumlah infaq yang penting melainkan kontinuitas-nya. Lebih baik berinfaq sedikit namun konstan terus-menerus daripada berinfaq dalam jumlah besar namun hanya sekali setahun atau seumur hidup. Orang yang konstan berinfaq tidak bakal dipengaruhi oleh musim. Dalam masa paceklik tetap berinfaq, dalam masa panen tentu lebih pasti.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”

#EraMuslim

Saturday, 24 September 2016

Aku Kamu dan Kalian Bersama Rasulullah

Have A sweet Day My Firends 

?


I was me.
I am not you.
I am not the same with you.
Me Myself and I
I was a nobody.
I belong to the ONE
I, ONE in one place
ALLAH is The ONE
Me Myself and I, the owner is the only ALLAH in My Heart

Wednesday, 14 September 2016

Special To The Best Behaviour

Malam ini hujan sangat deras. Senandung Doa dan Pembaca Kalam Illahi tak henti di telinga saya.
Banyak sekali Ilmu pengukuhan pribadi yang telah saya lupakan. Meskipun bacaan sebagai ilmu dan pengukuhan, setidaknya dapat memetik dari apa yang saya baca. 
Selama ini banyak sekali yang telah saya lewati. Hari ini adalah hari ketenangan, meskipun hujan di luar sana semakin deras. Namun hati terasa nyaman, tak lepas Kalam Illahi terdengar dengan sangat merdu. Mengevaluasi tetang yang lalu, sebagai pengalaman untuk di masa yang akan datang. 
Betapa pentingnya untuk mengasah akhlak pada jati diri, ilmu pengetahuan untuk suatu pencapaian pada tahap demi tahap sebuah kebaikan.


Pengertian Akhlak ;

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab “khuluq”, jamaknya “akhlâq” yang berarti tabiat atau budi pekerti. Prof. Ahmad Amin, dikutif Hamzah Yaqub, mendefinisikan akhlak adalah “suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat.” Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu akhlak ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Senada dengan pengertian ini ulama lain menjelaskan bahwa ilmu akhlak adalah “ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pegaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.” Kata akhlak di dalam al-Quran disebutkan pada surat al-Qalam (68): 4, sedangkan di dalam hadits dijelaskan pada sebuah hadits yang diriwayatkan dari imam Ahmad.


Special To The Best 


May Allah Always Protect from Evil Creatures


AKHLAK BAIK dan BURUK
A. Akhlak Baik
· Q.S Al-Baqarah [2]: 83


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَآئِيْلَ لَاتَعْبُدُوْنَ إِلَّااللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيْمُواالصَّلَاةَ وَآتُواالزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّاقَلِيْلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُوْنَ.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.”

Tafsir ibnu Katsir
Dalam ayat ini Allah menerangkan tugas yang diwajibkan-Nya kepada semua umat manusia dengan perantaraan para nabi dan rasul yang di utus-Nya, yaitu mengabdikan diri hanya kepada Allah, takut dan mengharap hanya pada Allah, serta berbakti kepada kedua orang tua, dan berbuat baik kepada semua manusia.

Ibnu Mas’ud r.a bertanya, “Ya Rasulullah apakah amal yang paling utama?” jawab Nabi saw, “Shalat tepat pada waktunya”. Ditanya lagi, “Kemudian apa?” jawab Nabi saw “Berbakti kepada ayah dan ibu” ditanya lagi “Kemudian apa?” jawab Nabi saw “Jihad di jalan Allah”. (H.R Bukhari-Muslim)

Seseorang bertanya kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, kepada siapa saya harus berbakti?” jawab Nabi saw “Kepada ibumu” Ia bertanya lagi, “Kemudian kepada siapa?” jawab Nabi saw, “Ibumu” Ia bertanya lagi, “Kemudian kepada siapa?” jawab Nabi saw, “Kepada ayahmu, kemudian kerabat yang terdekat denganmu, lalu kerabat yang dekat denganmu”.
Al-Hasan al-Bashri mengartikan وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا ialah: “Amar ma’ruf nahyi munkar, serta sabar dan suka memaafkan”.. Abu Dzar menuturkan, bahwa Rasulullah saw bersabda’:

لَاتَحْتَقِرَنّض مِنَ الْمَغْرُوْفِ شَيْئًا وَإِنْ لَمْ تَجِدْفَالْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ مُنْطَلِقٍ (رواه مسلم والترمذي)

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan suatu hal yang ma’ruf (baik) barang sedikitpun. Apabila kamu tidak menemukannya, maka sambutlah saudaramu dengan wajah yang berseri”.
Perintah untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia itu lebih dikuatkan lagi dengan perintah yang lebih operasional sifatnya, yaitu perintah shalat dan zakat. Jika keduanya dijalankan sesuai dengan perintah Allah, maka terlaksanalah pengertian menyembah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.
Tetapi mereka (Bani Israil) mengabaikan perintah itu dan berpaling darinya, kecuali sebagian kecil atau sedikit sekali dari mereka yang masih patuh.[1]
· Q.S Al-Baqarah [2]: 263

قَوْلٌ مَعْرُوْفٌ وَمَغَغْفِرَةٌ خَيْرٌمِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَآأَذًى وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ (البقرة ٢٦٣)

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”
Tafsir Ibnu Katsir
قَوْلٌ مَعْرُوْفٌ artinya “kalimat yang baik dan do’a bagi orang yang muslim”. Dan minta maaf itu lebih baik daripada bersedekah yang diikuti dengan mengungkit-ungkit atau penghinaan.
Abu Dzar r.a mengatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda :

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَايَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَايُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَلِيْمٌ: اَلْمَنَّانُ بِمَاأَعْطَى وَالْمُسَبِّلَ إِزَارَاهُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحِلْفِ الْكَاذِبِ.

“Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari kiamat, bahkan Allah tidak akan melihat dengan rahmat kepada mereka, tidak dibersihkan (dibebaskan), dan untuk mereka siksa yang sangat pedih, yaitu: orang yang selalu mengungkit-ungkit pemberiannya, orang yang menurunkan kainnya hingga di bawah mata kaki, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu.”
Abu Darda r.a mengatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda:

لَايَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ وَلَامَنَّانٌ وَلَامُدْمِنُ خَمْرٍوَلَامُكَذِّبٌ بِقَدَرٍ. (رواه ابن مردويه وأحمدوابن ماجه)

“Tidak akan masuk surga orang yang durhaka terhadap ayah dan ibu, orang yang selalu mengungkit-ungkit pemberiannya, orang yang suka minum khamr, dan orang yang mendustakan takdir Allah”.
Karena itulah Allah memperingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang riya karena ingin mendapat pujian dari orang lain, bukan Karena dorongan iman kepada Allah dan hari kemudian”.
Sebagaimana batalnya sedekah orang-orang yang riya, demikian pula batal sedekah orang yang mengungkit-ungkit sedekahnya atau menghina orang yang disedekahi. Sebab, orang yang berbuat karena riya itu hanya ingin dikenal sebagai dermawan dan selalu dipuji orang, sama sekali tidak terdorong untuk mendapat keridhaan Allah atau ingin pahala di hari akhir.[2]
قَوْلٌ مَعْرُوْفٌ kata-kata manis, atau tolakan yang halus kepada si peminta. Seperti perkataan, “Semoga Allah memberi rizki kepada anda”, atau “Kembalilah kepadaku lain waktu”, dan lain sebagainya.
مَغَغْفِرَة menutup-nutupi hal-hal yang telah dilakukan si peminta, seperti merengek-rengek ketika ia sedang meminta-minta, hal yang ini amat malu jika rahasianya dibuka.
خَيْر lebih bermanfaat dan banyak faedahnya.

B. Akhlak Buruk

· Q.S al-Baqarah [2]:188
وَلاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِلْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ .

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamudengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Abbas mengatakan, bahwa ayat ini berkenaa dengan seseorang yang punya hutang, tetapi tidak ada buktinya. Lalu ia mengingkari hutangnya dan membawa perkaranya kepada hakim, padahal ia ingat bahwa ia memang punya hutang dan tahu bahwa ia berada di pihak yang salah dan makan harta haram.

Ummu Salamah r.a mengatakan, bahwa Rasulullah bersabda;

“Ingatlah bahwa sesungguhnya aku seorang manusia, dan sering datang kepadaku orang-orang yang berselisih. Mungkin yang satu lebih pandai mengemukakan alasan daripada lawannya sehingga aku memenangkannya. Maka barang siapa yang aku menangkan padahal hal itu berarti mengambil hak seorang muslim, maka itu sama dengan aku memberi padanya sepotong api neraka, terserah kepadanya untuk diterima atau di tinggalkannya”. (H.R Bukhari, Muslim)

Ayat dan hadits ini menunjukan bahwa putusan seorang hakim tidak mengubah hakikat hukum syari’at, yakni tidak dapat mengubah yang haram menjadi halal atau sebaliknya, meskipun pada lahirnya dapat berlaku. Jika keputusan itu tepat lahir batinnya, maka itulah yang benar. Jika tidak, maka bagi hakim tetap mendapat pahala ijtihad, sedangkan dosanya ditanggung oleh penipunya.
Qatadah berkata, “Ketahuilah, bahwa putusan hakim tidak dapat menghalalkan apa yang haram, dan tidak dapat membenarkan apa yang batil. Hakim hanya menghukum menurut apa yang dapat di dengar, dilihat, dan disaksikan oleh para saksi, dan hakim itu manusia biasa yang bisa benar atau salah. Karena itu, ketahuilah barang siapa yang merasa bahwa ia dimenangkan dalm kebatilan, maka perkaranya belum selesai, dan akan dilanjutkan kelak dihadapan Allah”.[3]
Dha_'Athirah