Showing posts with label Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Muslimah. Show all posts

Tuesday, 1 November 2016

Syaikh Mustafa Efe


Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur MINA (Mi’raj Islamic News Agency)

Ada yang suka, ada juga yang geli, ‘takut’ bahkan benci dengan hewan yang satu ini, kucing. Kadang binatang ini sampai diusir dari rumah, dipukul dengan keras, disiram air, hingga dilukai. Karena dianggap kotor, suka ‘mencuri’ lauk ikan dan kencing sembarangan tanpa aturan.

Namun, itu tidak berlaku di salah satu sudut kota Istanbul, Turki. Tepatnya di Masjid Aziz Mahmud Hudayi. Di masjid yang dibangun pada 1594 ini, kucing justru dibiarkan bahkan dipelihara oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) setempat.


Media Middle East Eye (MEE) edisi 28 Januari 2016 lalu, mewawancarai Imam Masjid, Syaikh Mustafa Efe di masjid itu, saat bercengkerama dengan kucing-kucingnya.

“Selamat datang di Catstanbul bukan Konstantinopel, selamat datang di ibukota kucing dunia. sebuah kombinasi agama, budaya dan kepraktisan mengangkat kucing ke status sosial Istanbul,” ujarnya.

Pengurus masjid itu membuka pintu masjid untuk kucing-kucing dari lingkungan sekitar dan dekat sampah saat musim dingin melanda kota, untuk dipelihara dengan terawat. Puluhan kucing pun datang dan pergi ke masjid bersejarah di kota Istanbul itu.

Ia pun mengunggah gambar-gambar kucing itu ke media sosial, dan itu membuatnya menjadi populer.


Menurutnya, jika ada kontes ibukota kucing dunia, Istanbul pasti bisa menjadi pesaing utama untuk meraih mahkota juaranya.


“Ada kucing-kucing terawat hampir di gang-gang atau sudut-sudut jalan di sekitar sini. Ada hubungan cinta antara penduduk Istanbul dengan kucingnya,” imbuhnya.



Imam masjid dan kucing kesayangannya. (Catlovers)

Syaikh Mustafa Efe mengaku terkejut dengan foto-foto yang diunggahnya ternyata meraih begitu banyak perhatian, dan ia mengatakan bahwa apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang Muslim pun wajib lakukan.

“Keyakinan kami adalah semua tentang kasih sayang dan belas kasihan. Hal ini berlaku juga untuk hewan. Islam mengajarkan kita untuk berbelas kasih terhadap segala sesuatu di muka bumi ini. Bahkan untuk hal-hal yang kita anggap sepele seperti menyediakan tempat penampungan untuk kucing,” papar Syaikh Efe.


Syeikh Mustafa Efe


Ia menyebutkan, kucing itu bukan binatang najis dalam Islam, sehingga membiarkan mereka tinggal di rumah atau masjid itu sendiri tidak masalah sama sekali.

Imam masjid itupun menjelaskan bagaimana kepedulian dan kasih sayang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terhadap kucing, tidak diragukan lagi.

“Bagaimana nabi memotong kain lengan jubahnya untuk menyelimuti kucing yang sedang tertidur di jalan, dan bagaimana kucing diselamatkan Nabi dari gigitan ular,” urainya.

Kucing talim mosquecats.tumblr
Kucing ikut dalam kajian masjid. (Daily Sabah)
Ikut Beribadah


Kucing-kucing manis, berbulu terawat dan bersih, di Masjid Aziz Mahmud Hudayi, bukan hanya berdiam di tempatnya, bermain di halaman, berjemur di teras atau naik ke beberapa bagian masjid. Namun juga ikut masuk ke dalam masjid, seolah ia ingin ikut ‘beribadah’ shalat bersama jamaah kaum Muslimin.

Kucing-kucing pun dengan ‘rendah hati’ ikut berjalan menyusun shaf shalat, kadang ikut di antara kaki-kaki jamaah, atau duduk ‘khusyu’ mendengar tausiyah dari imam masjid atau syaikh yang memberikan ceramah di mimbar masjid.

Di luar masjid, di beberapa kedai kopi dan teh sekitar masjid, pun seringkali terlihat kucing-kucing itu duduk-duduk di kursi pemilik kedai. Pelanggan dan pemilik kedai pun sama sekali tidak ingin mengganggu keasyikan hewan-hewan itu.

“Kucing-kucing itu bersantai, itulah yang bisa saya layani di tempat ini,” kata Gulsun Sozeri, yang bekerja di kafe kecil kota, sambil menunjuk ke arah empat kucing yang sedang duduk santai di atas kursi.

“Kafe kami memiliki beberapa meja dan kursi. Kadang-kadang kucing mengambil satu atau dua kursi untuk berjemut di sinar matahari. Tidak ada yang berpikiran, baik pelanggan maupun kami yang mencoba untuk menggeser mereka. Mereka dibiarkan berada di sini,” ujar Sozeri.

Sozeri mengatakan meskipun kafenya telah kehilangan sejumlah pelanggan potensial yang memang alergi terhadap kucing. Namun ia mendapat pelanggan lainnya yang lebih banyak lagi.


Justru menurutnya, ketika kucing-kucing itu bermain-main, berada dalam suasana menyenangkan, itu menyediakan atraksi tersendiri untuk pelanggan. Banyak pecinta kucing sering tergoda untuk mampir ke sini untuk sekedar menikmati kopi sambil melihat kucing-kucing ‘berkelahi’ saling cakar.

Suleyman Akif, salah seorang relawan paruh waktu di penampungan hewan di Istanbul, mengatakan, beberapa penduduk                                                                                              lebih suka memelihara kucing daripada anjing.

Dia mengatakan salah satu alasan di balik itu adalah karena merawat kucing lebih mudah dan praktis daripada memelihara anjing.

“Ada orang-orang yang memiliki anjing sebagai hewan peliharaan atas desakan anak-anak mereka, tanpa menyadari berapa banyak pekerjaan yang diperlukan untuk menjaga anjing-anjing itu, di samping resiko penyakit rebies yang dapat ditularkannya. Sedangkan kucing cukup banyak mengurus diri sendiri dan tidak membutuhkan banyak perhatian,” kata Akif pada MEE.

Menurut Akif, alasan lain adalah kucing lebih sedikit di tempat penampungan daripada anjing, tapi tidak banyak yang mati ditabrak kendaraan, kucing-kucing lebih dapat menjaga diri mereka sendiri.

“Saya tidak tahu, apakah kucing lebih pintar, sehingga lebih banyak kasus anjing ditabrak mobil,” paparnya.

kucing imam masjid catlovers
Imam masjid dan kucing kesayangannya. (Catlovers)
Jasa Kucing

Selama berabad-abad Istanbul dikenal sebagai kota pelabuhan yang ramai dengan perdagangan ekspor dan impor tak terhitung untuk menghidupi warga kota. Namun, beberapa kapal yang tiba dari berbagai penjuru dunia seringkali membawa ancaman mematikan. Karena gudang kargo mereka kerap terdapat tikus-tikus yang dapat membawa wabah penyakit.

Saat itu, ‘pasukan’ kucing-kucing yang masih liarlah yang dianggap sebagai senjata terbaik untuk melawan mereka. Kucing-kucing ternyata memainkan peran besar dalam membentuk ikatan yang erat antara kucing dan kehidupan penduduk kota Istanbul, atas perang mereka. Dan penghormatan bersejarah penduduk terhadap kucing itu masih berlangsung sampai hari ini.

Imam Masjid Aziz Mahmud Hudayi Turki, Syaikh Mustafa Efe menyebutkan, ada pandangan negatif selama bertahun-tahun tentang kucing, seperti di layar film televisi.

Karenanya ia memposting gambar-gambar lucu kucing-kucing indah untuk menggambarkan betapa kucing binatang yang baik.

“Pesan utama kami sebenarnya adalah bahwa sikap belas kasih untuk semua makhluk hidup, itulah intinya,” ungkapnya.


Tapi tentu masjid yang ia bina bukan sekedar menyantuni kucing-kucing. Namun ia bersama staf juga mengadakan dapur umum di dalam kompleks untuk memberi makan bagi orang-orang miskin yang membutuhkan.

Masjid yang ia kelola sesuai fungsinya, terbuka untuk semua orang. Memberi makan semua yang lapar, dari kalangan tunawisma, pengungsi dan kepada siapa pun. Termasuk ke hewan-hewan.

“Kami tidak akan mengusir keluar setiap makhluk hidup yang datang ke pintu kami,” kata Syaikh usthafa Efe.



Media Daily Sabah merilis berita tentang akun-akun di jejaring sosial Facebook dan Instagram yang dipenuhi dengan foto-foto kucing lucu Istanbulites (Kucing dari Istanbul). Bahkan akun populer Instagram itu kini memiliki 8.000 pengikut.

Di layar lebar, sebuah film animasi di Turki sedang menyiapkan adegan “Kötü Kedi Şerafettin”, Kedi (dalam bahasa Inggris, cat), yang dirilis 5 Februari ini. sebuah animasi film kartun yang menceritakan petualangan heroik berbahaya kucing liar dari Istanbul. (P4/P2  )

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sunday, 23 October 2016

Wanita Adalah Mutiara

Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.

Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ‘kebetulan’ wanita. Insya Allah.

Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.

Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.

Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.

Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.

Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.

Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadi seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.

Ketahuilah, bukan banyaknya jumlah infaq yang penting melainkan kontinuitas-nya. Lebih baik berinfaq sedikit namun konstan terus-menerus daripada berinfaq dalam jumlah besar namun hanya sekali setahun atau seumur hidup. Orang yang konstan berinfaq tidak bakal dipengaruhi oleh musim. Dalam masa paceklik tetap berinfaq, dalam masa panen tentu lebih pasti.


وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ


أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”

#EraMuslim

Hi Musim & Muslimah Shubuh Itu Indah



meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’aala maka di antara fadhilah yang akan ia peroleh adalah penambahan ilmu dari Allah ta’aala, jalan keluar kesulitan hidupnya serta rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

”Dan bertakwalah kepada Allah; Allah (akan) mengajarmu.” (QS AlBaqarah ayat 282)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq ayat 2-3)



Demikian pula dengan berinfaq. Allah ta’aala menjanjikan fadhilah di balik kedermawanan seseorang yang rajin berinfaq.

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ ayat 39)

Bahkan dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan keuntungan yang bakal diraih seseorang yang rajin berinfaq di pagi hari sekaligus kerugian yang bakal dideritanya bilamana ia tidak peduli berinfaq di pagi hari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)
Ketahuilah, bukan banyaknya jumlah infaq yang penting melainkan kontinuitas-nya. Lebih baik berinfaq sedikit namun konstan terus-menerus daripada berinfaq dalam jumlah besar namun hanya sekali setahun atau seumur hidup. Orang yang konstan berinfaq tidak bakal dipengaruhi oleh musim. Dalam masa paceklik tetap berinfaq, dalam masa panen tentu lebih pasti.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”

#EraMuslim

Sunday, 16 October 2016

Understanding Of Life

Soon, winter will arrive. 

The water will freeze, 
skin feels dry, bones in the body stiff and aching, occasional nose bleed. 
Soon, the end of the year will change. 
Setting the direction of action for the better, 
change and improvement plans.


Always prepare from scratch. What has not been done, 
will be followed at some later time. New hope began to show a bright spot. 


Save the.... 

Hope 

it would appear, never know the exact day and date.


Prayer is always in turning, to an improvement for the next future. 
Not felt, the day was getting late. 

                                                                                        After age.., 

After the life experiences of conflict. Inner conflict, a conflict in every way ....,


Happy and sad.... 

to blend into one, this is a benchmark for the future. 
Errors and the truth began to be calculated from now. 
And is included in the headline of life. What ever happens, is a lesson


Point mistake I've ever done, not counted. 
The truth I do ?. not sure and did not know if it's true. 
Until now still need guidance to pace. 
Need an opinion, Need criticism, Needed rebuttal.



Need that in opinion, very necessary, and this is a very important point. 
hmmm .... 
How wonderful life, such as walking on water .........


Word of the Prophet:

People who are smart, people are preparing for death

Sunday, 28 August 2016

Only To ALLAH

Aku hanya percaya pada MU Ya ALLAH
Seperti aku percaya, bahwa Bumi bergerak memutar pada porosnya
Sehingga sebuah batu bila di lempar lurus ke udara
Maka akan jatuh beberapa meter dari tempat ia di lemparkan



Thursday, 25 August 2016

Anang Anarawata Anglep (Jatuh Cinta Senantiasa Indah)


Jemari melukis sebuah wajah pada Alam
Dengan warna Pelangi
Berkuas Angin

Dengan kanvas Langit
Membentuk suatu coretan Landscape

Bernuansa Cerah
Mengandung Bahasa Cinta
Indahnya Bumi
Alam semesta 
Sang Acitya amlas asih

Tuesday, 23 August 2016

The Way I Show That I Love You

If kisses were water, I will give the sea.
If the arms are the leaves, I will give the forest.
If the friendship was still alive, I'll give you mine.
If you love me, I will ask God, whether God has really choose you for my life?
Quite simply, The way I show that I Love You, & I Love My Friends


It's Your Day

If we love kindness, goodness we did not want to leave it, and will find the happiness we shared good ones.
Life is not just to find things that make you happy.
But also about being aware of what makes you sad, and dare to accept and able to get away from it.
God's plan is like a movie, all the stories were good and not good, well designed for a happy ending.
Therefore, when God gives happiness, say: Thanks God.
And when God gives grief, Say also: Thanks God.
This is what we call balance.
No need to be afraid or shy away from all kinds of problems,
one hour ahead you have to do different things than before. So stay patient, Tough to live,
though ......................., bla...bla...bla...
Keep smile my friends,
Wish you a wonderful day, and always have good luck


You are Shadow

All natural phenomena are merely shadows of the eternal forms or ideas.
But most people are content to live in the shadows.
They do not think about what it shadows.
They are more enslaved to the shadows.
And so, they did not heed immortality, that they have a heart and soul.
# I'm Not Shadow, I have come to love, and love does not look for the perfect person, but learning to see an imperfect person perfectly.




Sunday, 21 August 2016

Lie in Wait

Kemampuan dalam menyikapi permasalahan, 
tidak hanya sampai titik air mata anda. 
Melainkan di titik air mata, ada sebuah harapan yang indah,
yang telah dijanjikan Tuhan untuk Anda. 
Bangkit dan berdirilah, bahwa anda tidak sendiri. 
Anda adalah seorang Guru yang terbaik. 
Seorang Guru yang piawai mengelolah kehidupan dalam kondisi apapun itu. 
HIDUP ADALAH KONFLIK
This song tells of a Someone waiting for her lover, 
She is Realizedbut As long as she waited. 
Her lover never came. that Love is just a delusion.


Wednesday, 13 July 2016

Surat al-Ahzab 59 (Ayat tentang jilbab)



A.     Ayat
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [1]
   
B.     Mufrodat:
لِأَزْوَاجِكَ  = kepada istri-istrimu
بَنَاتِكَ = anak-anak perempuanmu 
يُدْنِينَ = mengulurkan
جَلَابِيبِهِنَّ = jilbabnya
أَدْنَى = lebih mudah
يُعْرَفْنَ = dikenal
يُؤْذَيْنَ = diganggu

C.    Terjemah
Artinya: Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[2] ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[3]
D.    Asbabun Nuzul[4]
Pada suatu riwayat dikemukakan bahwa Siti Saudah (istri Rasulullah) keluar rumah untuk sesuatu keperluan setelah diturunkan ayat hijab. Ia adalah seorang yang badannya tinggi besar sehingga mudah dikenal orang. Pada waktu itu Umar melihatnya, dan ia berkata: “Hai Saudah. Demi Allah, bagaimana pun kami akan dapat mengenalmu. Karenanya cobalah pikir mengapa engkau keluar?” Dengan tergesa-gesa ia pulang dan saat itu Rasulullah barada di rumah Aisyah sedang memegang tulang sewaktu makan. Ketika masuk ia berkata: “Ya Rasulallah, aku keluar untuk sesuatu keperluan, dan Umar menegurku (karena ia masih mengenalku)”. Karena peristiwa itulah turun ayat ini (S. Al Ahzab: 59) kepada Rasulullah SAW di saat tulang itu masih di tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah: “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kau keluar rumah untuk sesuatu keperluan.”[5]
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa istri-istri Rasulullah pernah keluar malam untuk mengqadla hajat (buang air). Pada waktu itu kaum munafiqin mengganggu mereka yang menyakiti. Hal ini diadukan kepada Rasulullah SAW, sehingga Rasul menegur kaum munafiqin. Mereka menjawab: “Kami hanya mengganggu hamba sahaya.” Turunnya ayat ini (S. Al Ahzab: 59) sebagai perintah untuk berpakaian tertutup, agar berbeda dari hamba sahaya.[6]
E.     Ayat Al Qur’an lain sebagai pendukung
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون  
Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An Nur: 31)
Surat Al Ahzab juga menjelaskan sebagai berikut:
لَا جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي آبَائِهِنَّ وَلَا أَبْنَائِهِنَّ وَلَا إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلَا نِسَائِهِنَّ وَلَا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ وَاتَّقِينَ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا   
Artinya: “Tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha menyaksikan segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 55).[7]
F.     Kandungan ayat atau tafsir[8]
Setelah ayat-ayat yang lalu melarang siapapun mengganggu dan menyakiti Nabi SAW bersama kaum mukminin dan mukminat, kini secara khusus kepada kaum mukminat – bermula dari istri Nabi Muhammad SAW – diperintahkan untuk menghindari sebab-sebab yang dapat menimbulkan penghinaan dan pelecehan.
Sebelum turunnya ayat ini, cara berpakaian wanita merdeka atau budak, yang baik-baik atau kurang sopan hampir dapat dikatakan sama. Karena itu lelaki usil sering kali mengganggu wanita-wanita khususnya yang mereka ketahui atau duga sebagai hamba sahaya. Untuk menghindarkan gangguan tersebut, serta menampakkan kehormatan wanita muslimah ayat di atas turun menyatakan: Hai Nabi Muhammad katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita keluarga orang-orang mukmin agar mereka mengulurkan atas diri mereka yakni keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal sebagai wanita-wanita terhormat atau sebagai wanita-wanita muslimah, atau sebagai wanita-wanita merdeka sehingga dengan demikian mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Kalimat: ( نساء الؤمنين ) nisa’ al mu’minin diterjemahkan oleh tim Departeman Agama dengan istri-istri orang mukmin. Penulis lebih cenderung menerjemahkannya dengan wanita-wanita orang-orang mukmin sehingga ayat ini mencakup juga gadis-gadis semua orang mukmin bahkan keluarga mereka semuanya.
Kata ( عليهنّ ) ‘alaihinna | di atas mereka mengesankan bahwa seluruh badan mereka tertutupi oleh pakaian. Nabi SAW mengecualikan wajah dan telapak tangan serta beberapa bagian lain dari tubuh wanita (baca Q.S. An Nur [24]: 31), dan penjelasan Nabi itulah yang menjadi penafsiran ayat ini.[9]
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ (رواه أَبُو دَاوُد)[10]
Artinya: “Dari Aisyah r.a.: Sesungguhnya Asma’i binti Abu Bakar datang kepada Rasulullah SAW dan dipakainya pakaian yang tipis, maka Rasulullah SAW menyegahnya dan berkata:  Wahai Asma’i, sesungguhnya wanita itu bila sudah datang masa haid tidak pantas terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangannya.” (H.R. Abu Dawud dari Aisyah r.a.)
Bagi kaum wanita, sejak mulai masa dewasa wajib menutup seluruh anggota badannya. Seorang wanita yang menutup auratnya dengan rapat, menjadikan orang lain segan berbuat jahat kepadanya. Sebaliknya apabila wanita sudah tidak mau menutup auratnya akan mendorong orang lain berbuat jahat kepadanya. Falsafah buah-buahan, dia tidak akan menjadi sasaran kelelawar apabila buah itu dibungkus rapat-rapat.[11]
Kata ( جلباب ) jilbab diperselisihkan maknanya oleh ulama. Al Baqa’i menyebut beberapa pendapat. Antara lain, baju yang longgar atau kerudung penutup kepala wanita, atau pakaian yang menutupi wanita. Semua pendapat ini menurut Al Baqa’i dapat merupakan makna kata tersebut. Kalau yang dimaksud dengannya adalah baju, maka ia adalah menutupi tangan dan kakinya, kalau kerudung, maka perintah mengulurkannya adalah menutup wajah dan lehernya. Kalau maknanya pakaian yang menutupi baju, maka perintah mengulurkannya adalah membuatnya longgar sehingga menutupi semua badan dan pakaian.
Thabathaba’i memahami kata jilbab dalam arti pakaian yang menutupi seluruh badan atau kerudung yang menutupi kepala dan wajah wanita. Ibn ‘Asyur memahami kata jilbab dalam arti pakaian yang lebih kecil dari jubah tetapi lebih besar dari kerudung atau penutup wajah. Ini diletakkan wanita di atas kepala dan terulur kedua sisi kerudung itu melalui pipi hingga ke seluruh bahu dan belakangnya. Ibn ‘Asyur menambahkan bahwa model jilbab bisa bermacam-macam sesuai perbedaan keadaan (selera) wanita dan yang diarahkan oleh adat kebiasaan. Tetapi tujuan yang dikehendaki ayat ini adalah “…menjadikan mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu.”
Kata ( تدني ) tudni terambil dari kata ( دنا ) dana yang berarti dekat dan menurut Ibn ‘Asyur yang dimaksud di sini adalah memakai atau meletakkan. Ayat di atas tidak memerintahkan wanita muslimah untuk memakai jilbab, karena agaknya ketika itu sebagian mereka telah memakainya, hanya saja cara memakainya belum mendukung apa yang dikehendaki ayat ini. Kesan ini diperoleh dari redaksi ayat di atas yang menyatakan jilbab mereka dan yang diperintahkan adalah “Hendaklah mereka mengulurkannya”. Ini berarti mereka telah memakai jilbab tetapi belum lagi mengulurkannya. Sehingga terhadap mereka yang telah memakai jilbab, tentu lebih-lebih lagi yang belum memakainya, Allah berfirman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya.”
Firman-Nya: ( و كان الله غفورا رحيما ) wa kana Allah ghafuran rahima | Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dipahami oleh Ibn ‘Asyur sebagai isyarat tentang pengampunan Allah atas kesalahan mereka yang mengganggu sebelum turunnya petunjuk ini. Sedang Al Baqa’i memahaminya sebagai isyarat tentang pengampunan Allah kepada wanita-wanita mukminah yang pada masa itu belum memakai jilbab – sebelum turunnya ayat ini. Dapat juga dikatakan bahwa kalimat itu sebagai isyarat bahwa mengampuni wanita-wanita masa kini yang pernah terbuka auratnya, apabila mereka segera menutupnya atau memakai jilbab, atau Allah mengampuni mereka yang tidak sepenuhnya melaksanakan tuntunan Allah dan Nabi, selama mereka sadar akan kesalahannya dan berusaha sekuat tenaga untuk menyesuaikan diri dengan petunjuk-petunjuk-Nya.[12]